Wacana Penjara Khusus Bagi Teroris di Indonesia

Jumat, 22 Januari 2016 | 19.22 WIB

Bagikan:
ilustrasi penjara 
TOPIK.CO - Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementeri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), merencanakan penjara khusus bagi teroris.
    
Menanggapi hal tersebut, Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan penjara khusus teroris serta pengikut kelompok radikal akan dibagi emapt.
    
"Tahanan teroris itu dibagi empat, ada ideologi, radikal, penyedia logistik dan penggembira. Minggu depan akan kami eksekusi soal ini. Mudah-mudahan bisa selesai," cetus Luhut di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (22/1).

Luhut juga menjelaskan, para tahanan akan mendapatkan sejumlah program pemulihan jiwa sebagai bentuk pendekatan terhadap kepribadian mereka yang menyimpang.
       
"Ada tujuh pendekatannya misalnya terapi holistika, pendekatan agama, pendekatan psikologi hingga pendekatan vocational training," bebernya.
       
Selain program itu, Luhut mengutarakan pemisahan penjara antara tahanan terlibat teroris dan non teroris (Kelompok Radikal). 
   
"Pemisahan tahanan itu misalnya dalam satu ruangan hanya ada tahanan yang terlibat teroris. Jadi, dia tidak bisa berkomunikasi dengan tahanan yang non teroris . Mereka tidak digabung dengan tahanan lainnya," tegasnya.

Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan | pengawal.com
Luhut juga menjelaskan, para tahanan akan mendapatkan sejumlah program pemulihan jiwa sebagai bentuk pendekatan terhadap kepribadian mereka yang menyimpang.
   
"Ada tujuh pendekatannya misalnya terapi holistika, pendekatan agama, pendekatan psikologi hingga pendekatan vocational training," bebernya.
   
Selain program itu, Luhut mengutarakan pemisahan penjara antara tahanan terlibat teroris dan non teroris (Kelompok Radikal). 
   
"Pemisahan tahanan itu misalnya dalam satu ruangan hanya ada tahanan yang terlibat teroris. Jadi, dia tidak bisa berkomunikasi dengan tahanan yang non teroris . Mereka tidak digabung dengan tahanan lainnya," tegasnya.

Luhut juga menjelaskan, para tahanan akan mendapatkan sejumlah program pemulihan jiwa sebagai bentuk pendekatan terhadap kepribadian mereka yang menyimpang.
   
"Ada tujuh pendekatannya misalnya terapi holistika, pendekatan agama, pendekatan psikologi hingga pendekatan vocational training," bebernya.
   
Selain program itu, Luhut mengutarakan pemisahan penjara antara tahanan terlibat teroris dan non teroris (Kelompok Radikal). 
   
"Pemisahan tahanan itu misalnya dalam satu ruangan hanya ada tahanan yang terlibat teroris. Jadi, dia tidak bisa berkomunikasi dengan tahanan yang non teroris . Mereka tidak digabung dengan tahanan lainnya," tegasnya.

[Eko]
Bagikan:
KOMENTAR